Mengenai Saya

Foto saya
Surfing on the cloud...

Nyengir Kuda...

Nyengir Kuda...

Kamis, Agustus 20, 2009

Antara Pesawat Udara, Taksi, Bus dan Becak...

Keinginanku untuk menemui seorang sahabat di suatu kota sudah lama direncanakan, hanya baru sekarang keinginan itu baru akan diwujudkan. Rasa penasaan, kangen dan hasrat untuk segera menemui seorang sahabat sudah tak tertahankan karena selama ini kami “bertemu” hanya melalui alat komunikasi telepon…

Tiba juga hari “H” yang saya tunggu, jam 13.20 WITA adalah jadwal flight (penerbangan domestik) dari Kp ke Dp, sampai di Bandara NR jam 14.15 WITA. Sambil menunggu PESAWAT dari Dp ke Yk dijadwalkan jam 15.10 WITA serta untuk “membunuh” rasa sepi dan jenuh karena menunggu waktu, saya mencoba berkomunikasi dengan sahabat melalui telepon. Perjalanan Dp – Yk ditempuh selama 40 menit dan jam 15.00 WIB (perbedaan waktu 1 jam antara WITA dan WIB) aku tiba di Bandara AS Yk. Perjalanan saya teruskan dari Bandara dengan menggunakan TAKSI ke terminal BUS untuk menuju kota tujuan. Selama perjalanan suasananya berbeda dengan ketika saya “duduk” di pesawat. Ketika memakai bus saya tidak dapat memandang keluar jendela karena posisi duduk saya berada di “samping gang” selain itu juga kondisi diluar hanya kegelapan yang terlihat. Saya berusaha menahan kantuk dan rasa lelah karena perjalanan dari ujung timur Indonesia ke bagian tengah Indonesia cukup lama, namun keinginan kuat membunuh rasa itu... Pukul 20.15 WIB sampailah saya di terminal bus kota tujuan, perjalanan saya teruskan dengan menggunakan BECAK menuju hotel D (saya lupa nama jalannya). Sesampainya di lobby hotel, saya check in dan ternyata kamar sudah dipesankan oleh dia… sahabatku…. Hmm… surprise…, ketika saya memasuki kamar, didalamnya selain tersedia compliment dari hotel juga ada cake, buah-buahan dan secarik kertas yang isinya sangat menyentuh nurani dan kalbu saya. Hilang rasa lelah dan kantuk saya ketika membaca tulisan itu, yang ada dalam pikiran saya hanya keinginan untuk segera bertemu dan mendengar suara seorang sahabat secara langsung… Untuk segera mewujudkan pertemuan, saya segera rebahkan badan dan tertidur agar esok hari badan lebih fresh dan berharap malam cepat berganti dengan siang hari…

Pagi yang cerah secerah suasana hati saya karena sebentar lagi akan menyongsong pertemuan dengan seorang sahabat… Bunyi telepon berdering, kami berjanji untuk bertemu disatu tempat… tak sabar ingin kulihat seraut wajah secara langsung, wajah yang selama ini saya lihat hanya melalui foto….
Sekarang sosok itu ada dihadapan saya, kujabat tangannya, sepertinya saya tidak mau melepaskan jabatan itu… tidak ada sepatah katapun yang mampu terucap…, hanya kebahagiaan dan suka cita karena pertemuan yang ditunggu sekian lama kini dapat terwujud…
* .... sekarang dan tak terbatas waktu.... tetap menjadi sahabatku....

Rabu, Agustus 19, 2009

Sepenggal dialog menjadi awal kehidupan baru....

Pesawat telepon yang ada dimeja kerja saya berdering, setelah 2 kali “ring-tone”nya berbunyi lalu saya angkat, terdengar suara perempuan diseberang menyapa:

Perempuan: “hallo…”
Saya: “hallo, selamat siang…mau bicara dengan siapa…?”
(P):“oh ya, mohon maaf, saya mau bicara dengan Mas Pulung…”
(S):“kebetulan Mas Pulung nya sedang tidak ada ditempat Mba…, ada yang bisa saya bantu…? ini dari mana dan saya bicara dengan siapa…?”
(P):“saya Rita, teman nya Mas Pulung…, kalau begitu nanti aja saya telepon kembali, mohon maaf, saya juga bicara dengan siapa…?”
(S):“saya Tia, Tia SP…”
(dalam hati saya bergumam bahwa saya telah memberikan informasi nama yang keliru kepada penelepon)
(P):“kalau namanya Tia SP pasti orang sunda ya…? kenapa orang sunda ada di Kupang…?”
(S):iya, saya dari Bandung, kebetulan sedang ditugaskan di Kupang, memang kalau orang sunda ngga boleh di Kupang Mba…? kalau Mba Rita sendiri dimana…?”
(P):“boleh aja sih, ngga ada yang larang juga… saya di Jakarta, kebetulan sedang buka usaha… kalau begitu, saya panggil Kang Tia aja ya…? udah lama tugas di Kupang…?”
(S):“udah tiga tahun malah mau masuk tahun keempat di Kupang, kesel juga sih karena beberapa temen udah pada dipindah lagi ke kota lain…”
(P):“jadi Kang Tia kira-kira kapan dipindahnya…?”
(S):“ngga tau juga ya, mudah-mudahan ngga lama lagi… ngomong-ngomong, Mba Rita sama siapa di Jakarta…?”
(P):“saya di Jakarta sama orang tua, buka usaha studio foto, jadi kerjaan saya sekarang jagain studio foto itu. saya kenal Mas Pulung kebetulan yang bersangkutan satu kampus dengan saya…”
(terbayang dalam benak saya, Mba Rita ini waktu telepon saya sedang duduk dikursi dibelakang meja counter desk studio foto…)
(S):“Mba Rita gimana atuh Mas Pulung nya belum kembali ditempat…?”
(P):“oh gitu, ya udah… nanti saya telepon lagi kalau yang bersangkutan sudah kembali ke tempat… Kang Tia kalau nanti saya telepon Kang Tia ngga keberatan…?”
(S):“dengan senang hati, saya akan terima telepon Mba Rita, atau malah nanti saya yang akan telepon Mba Rita… kalau nomor telepon Mba Rita yang dapat saya hubungi nomor berapa…?”
(P):“Kang Tia, kalau gitu saya pamit dulu karena ada kerjaan yang harus diselesaikan hari ini,…nomor teleponnya nanti saya kasih kabar lagi…”
(S):“silakan Mba Rita, saya tunggu kabar selanjutnya dari Mba Rita…”
(P):“Terima kasih ya”
(S):“sama-sama Mba Rita, terima kasih juga udah berkenan kenalan dengan saya…”
(saya sangat berharap suatu saat Mba Rita menelepon saya lagi sekalian memberikan nomor telepon pribadinya…)

Gagang pesawat telepon tidak segera saya simpan, karena masih berkecamuk dalam benak saya, siapa gerangan perempuan yang telepon tadi…? alunan suara dan aksentuasi kata telah menyihir saya untuk mengajukan pertanyaan lebih banyak supaya saya lebih lama berdialog dengan Mba Rita yang baru saya kenal melalui telepon lima menit yang lalu.
Hmmm, ternyata sepenggal dialog itu telah mewujudkan harapan baru dalam kehidupan saya... terima kasih ya Alloh ya robull allamin...

Selasa, Agustus 04, 2009

Salam Wanadri...

"Tak ada gunung yang tinggi, rimba belantara, jurang curam dan lautan serta angkasa yang tak dapat dijelajahi oleh Wanadri" (Sarwo Edhi Wibowo)

Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti Pendidikan Dasar Wanadri (PDW)…
Berbagai alasan dan pertimbangan sampai ke hal-hal yang paling pahit dan tidak nyaman telah diperhitungkan. Kenapa hal ini dilakukan, mengingat satu tahun sebelumnya saya telah mengikuti Pendidikan Dasar Resimen Mahasiswa yang telah menempa dan membentuk pribadi saya baik secara fisik maupun mental, kondisi itu sangat bermanfaat minimal bagi diri sendiri. Selama mengikuti PDW saya memperoleh pembelajaran dan makna hidup yang sangat berarti dalam pembentukan pribadi saya. Niat awal saya mengikuti PDW lebih kepada keinginan untuk memanfaatkan momentum dan penyegaran dalam hidup saya,

Beberapa teman saya heran dan bertanya-tanya, mengapa saya mengikuti PDW padahal belum lama baru selesai Diklatsar Menwa. Saya coba jelaskan kepada mereka bahwa setahu saya pembelajaran di PDW ialah menyatukan manusia dengan alam dan mengkondisikan kita (peserta) dalam kondisi yang ekstrem secara fisik dan mental. Sehingga dengan pengalaman tersebut diharapkan peserta dapat menjadi manusia yang tangguh dan andal. Alasan berikutnya yang mendorong saya mengikuti PDW ini lebih kepada kecintaan dan obsesi saya untuk bertualang.

Dinginnya udara pagi Kota Bandung serasa menusuk ke seluruh relung tulang namun hal itu tidak menyurutkan niat saya untuk segera berangkat menuju ke sekretariat Wanadri di Gedung Pancasila Jl. Aceh Bandung. Setibanya di sekretariat semua peserta dikumpulkan di halaman selanjutnya semua melakukan push up untuk pemanasan, cek kelengkapan peralatan dan perbekalan, pukul 5.30 kami diberangkatkan per regu untuk long march dari Jl. Aceh ke Situ Lembang.

Perjalanan long march dari Jl. Aceh Bandung melewati Jl. Ciumbuleuit-Punclut-Lembang-Jayagiri-Tangkuban Parahu. Seluruh peserta PDW baru sampai di Kawah Upas Tangkuban Parahu kurang lebih jam lima sore. Setelah istirahat setengah jam kami dikumpulkan di tebing kawah upas puncak Tangkuban Parahu yang menjulang tinggi. Di depan kami adalah gerbang Pendidikan Dasar Wanadri, kami akan membukanya sekarang dan memasukinya.

Hari-hari selama kegiatan PDW banyak kejadian yang saya dan peserta lainnya alami. Perjalanan panjang yang melelahkan dan pada saat tertentu menimbulkan keputusasaan sebagian peserta.
§ Kegiatan longmarch dari Jln. Aceh sampai Situ Lembang menghabiskan waktu siang dan malam, namun kami jalani dengan penuh kesabaran karena niatan awal ingin mendapatkan ”sesuatu” yang belum pernah kami dapatkan.
§ Selama 1 (satu) minggu tahapan pelatihan dasar di Situ Lembang mengajarkan kedisiplinan, membiasakan mengkonsumsi makanan berupa nasi dari beras merah, ikan asin waja, tahu dan tempe, serta minum air sungai dan situ lembang.
§ Penelusuran sungai Citarum dan pendakian Tebing Citatah selama 4 hari yang memberikan pengalaman dan pengatahuan bagi peserta. Berapa banyak air sungai Citarum yang terhirup selama penelusuran, luka tergores dan memar di tubuh ketika menapaki dan memanjat Tebing Citatah, namun tidak menyurutkan semangat kami.
§ Selama dua hari dua malam di Rawa-Pantai Blanakan-Pamanukan, Subang sangat berkesan karena keindahan rawa dan pantai yang permukaan airnya disaput sinar matahari senja.
§ Sejauh 30 km ditempuh dengan berjalan kaki (longmarch) menyusuri rel kereta api sejak dari Indramayu-Pagaden Baru, Subang. Diteruskan dengan perjalanan di jalan raya dan bukit (longmarch) sejauh 50 km Taman Ranggawulung Subang-Desa Cihanjawar Purwakarta.
§ Kegiatan bakti sosial kepada masyarakat merupakan salah satu bagian dari PDW. Semua peserta diinapkan di Balai Desa selama satu malam dan malam berikutnya disebar untuk berinteraksi serta menginap di rumah warga.
§ Sesi latihan Survival dilanjutkan dengan Search and Rescue (SAR) selama enam hari lima malam, sungguh memberikan pengalaman dan pelajaran yang tidak akan pernah terlupakan. Selama latihan Survival dan SAR, kami menyatu dengan alam, pemahaman dan penyesuaian dengan kondisi alam sangat diperlukan karena setiap saat kondisi alam berubah tanpa kita dapat duga sebelumnya.
§ Satu hari menjelang penutupan, semua peserta ”diinapkan” di alam terbuka puncak Gunung Tangkuban Parahu, menjelang subuh semua peserta bersiap-siap menuju lapangan upacara.

Tiga puluh hari telah kami lewati, suka dan duka kami jalani, luka di badan karena tergores ranting dan dahan, terbentur batu dan kayu melepuh karena panas, digigit serangga atau lintah menjadi hal yang biasa kami alami. Namun kondisi-kondisi itu tidak menyurutkan semangat kami, ikatan kekeluargaan, kerjasama dan kekompakan peserta menjadi pengikat semua peserta PDW yang mempunyai tujuan sama mengakhiri PDW dengan selamat.

Pagi itu, kurang lebih jam delapan, di Puncak Tangkuban Parahu, dari atas tebing turun ke Kawah Upas, saatnya kami keluar dari gerbang ini dengan selamat. Hikmah yang akan kami bawa pulang setelah proses yang panjang dan berat ini yaitu mengingatkan kami tentang nilai-nilai Wanadri yang salah satunya adalah tidak berhenti belajar dan berlatih sampai kita mati. Saat itu saya tertunduk berdo’a dan menangis, memohon ampun kepada Allah swt atas semua dosa, kesia-siaan, dan kelalaian khususnya selama 30 hari ini. Serta memohon kepada-Nya agar semua niatan saya dikabulkan.

Semua peserta menuruni tebing menuju Kawah Upas, dengan sambutan ledakan TNT, rentetan tembakan, serta granat asap kami tiba di tempat upacara pelantikan. Hampir seluruh anggota Wanadri hadir, dan tentu saja yang akan melantik kami yaitu Panglima TNI beserta anak buahnya dari baret merah (KOPASANDHA), oranye (PASKHAS), ungu (MARINIR), biru (PM), ada juga pejabat dari pemerintah daerah Prov. Jawa Barat dan yang lainnya.

Yang paling istimewa tentu saja para undangan yang merupakan orang tua dan keluarga para siswa. Namun secara pribadi, saya sedih karena yang lain hampir semuanya dihadiri oleh orang tua atau keluarga masing-masing sementara saya tidak ada satupun orang tua dan keluarga yang hadir karena saat itu memang saya sendirian di kota Bandung ini. Namun demikian ada sedikit yang mengurangi kesedihan dan menghibur saya adalah temen-temen senior di Wanadri yang kebetulan juga temen-temen saya di Resimen Mahasiswa Mahawarman tak henti-hentinya memberikan support dan semangat bahwa tidak hari ini saja pengabdian akan berakhir tapi perjalanan masih panjang dan kedepan akan lebih berat lagi harus dihadapi oleh saya. Selanjutnya secara simbolik Panglima TNI melantik perwakilan peserta dengan menyematkan badge orange Wanadri di lengan kiri kemeja dan peserta lainnya penyematan dilakukan oleh orang tua atau keluarga masing-masing.

Sampai dengan hari ini saya masih diberi umur panjang dan kesehatan serta insya alloh kedepan akan lebih baik lagi sehingga saya dapat menuliskan catatan-catatan kecil mengenai pengalaman perjalanan hidup saya.

Kabut Rimba - Kaliandra 1981