Mengenai Saya

Foto saya
Surfing on the cloud...

Nyengir Kuda...

Nyengir Kuda...

Rabu, Agustus 19, 2009

Sepenggal dialog menjadi awal kehidupan baru....

Pesawat telepon yang ada dimeja kerja saya berdering, setelah 2 kali “ring-tone”nya berbunyi lalu saya angkat, terdengar suara perempuan diseberang menyapa:

Perempuan: “hallo…”
Saya: “hallo, selamat siang…mau bicara dengan siapa…?”
(P):“oh ya, mohon maaf, saya mau bicara dengan Mas Pulung…”
(S):“kebetulan Mas Pulung nya sedang tidak ada ditempat Mba…, ada yang bisa saya bantu…? ini dari mana dan saya bicara dengan siapa…?”
(P):“saya Rita, teman nya Mas Pulung…, kalau begitu nanti aja saya telepon kembali, mohon maaf, saya juga bicara dengan siapa…?”
(S):“saya Tia, Tia SP…”
(dalam hati saya bergumam bahwa saya telah memberikan informasi nama yang keliru kepada penelepon)
(P):“kalau namanya Tia SP pasti orang sunda ya…? kenapa orang sunda ada di Kupang…?”
(S):iya, saya dari Bandung, kebetulan sedang ditugaskan di Kupang, memang kalau orang sunda ngga boleh di Kupang Mba…? kalau Mba Rita sendiri dimana…?”
(P):“boleh aja sih, ngga ada yang larang juga… saya di Jakarta, kebetulan sedang buka usaha… kalau begitu, saya panggil Kang Tia aja ya…? udah lama tugas di Kupang…?”
(S):“udah tiga tahun malah mau masuk tahun keempat di Kupang, kesel juga sih karena beberapa temen udah pada dipindah lagi ke kota lain…”
(P):“jadi Kang Tia kira-kira kapan dipindahnya…?”
(S):“ngga tau juga ya, mudah-mudahan ngga lama lagi… ngomong-ngomong, Mba Rita sama siapa di Jakarta…?”
(P):“saya di Jakarta sama orang tua, buka usaha studio foto, jadi kerjaan saya sekarang jagain studio foto itu. saya kenal Mas Pulung kebetulan yang bersangkutan satu kampus dengan saya…”
(terbayang dalam benak saya, Mba Rita ini waktu telepon saya sedang duduk dikursi dibelakang meja counter desk studio foto…)
(S):“Mba Rita gimana atuh Mas Pulung nya belum kembali ditempat…?”
(P):“oh gitu, ya udah… nanti saya telepon lagi kalau yang bersangkutan sudah kembali ke tempat… Kang Tia kalau nanti saya telepon Kang Tia ngga keberatan…?”
(S):“dengan senang hati, saya akan terima telepon Mba Rita, atau malah nanti saya yang akan telepon Mba Rita… kalau nomor telepon Mba Rita yang dapat saya hubungi nomor berapa…?”
(P):“Kang Tia, kalau gitu saya pamit dulu karena ada kerjaan yang harus diselesaikan hari ini,…nomor teleponnya nanti saya kasih kabar lagi…”
(S):“silakan Mba Rita, saya tunggu kabar selanjutnya dari Mba Rita…”
(P):“Terima kasih ya”
(S):“sama-sama Mba Rita, terima kasih juga udah berkenan kenalan dengan saya…”
(saya sangat berharap suatu saat Mba Rita menelepon saya lagi sekalian memberikan nomor telepon pribadinya…)

Gagang pesawat telepon tidak segera saya simpan, karena masih berkecamuk dalam benak saya, siapa gerangan perempuan yang telepon tadi…? alunan suara dan aksentuasi kata telah menyihir saya untuk mengajukan pertanyaan lebih banyak supaya saya lebih lama berdialog dengan Mba Rita yang baru saya kenal melalui telepon lima menit yang lalu.
Hmmm, ternyata sepenggal dialog itu telah mewujudkan harapan baru dalam kehidupan saya... terima kasih ya Alloh ya robull allamin...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar