Mengenai Saya

Foto saya
Surfing on the cloud...

Nyengir Kuda...

Nyengir Kuda...

Kamis, Mei 28, 2009

Sejarah Resimen Mahasiswa Mahawarman




Tanggal 13 Juni 1959 sesuai dengan keputusan Pangdam VI/SLW No. 40/2/5/1959 Kolonel Kosasih, dibentuklah Wajib Latih (WALA) Mahasiswa dalam rangka menghadapi kericuhan di Jawa Barat, terutama yang ditimbulkan oleh DI/TII Kartosuwiryo. WALA Mahasiswa angkatan 1959 ini adalah Resimen Mahasiswa pertama di Indonesia, sebagai Komandan pertama adalah Kapten Ojik Soeroto.
Sebagai kelanjutannya, dari tanggal 13 Juni sampai 14 September 1959 diadakan latihan yang pertama di Kota Bandung yang menghasilkan satu Batalyon Mahasiswa dengan kekuatan 6 kompi terdiri atas 4 kompi mahasiswa ITB, 2 kompi gabungan Universitas & Akademi swasta.
Tanggal 19 Desember 1961, sejalan dengan Perjuangan Pembebasan Irian Barat, TRIKORA, keluarlah Instruksi Menteri PTIP No. 1 tahun 1962 tanggal 15 Januari 1962 untuk membentuk Corps sukarelawan di lingkungan Perguruan Tinggi dan Penguasa, Perang Daerah No. KPTS 04/7/1/PPD/62 tanggal 10 Juni 1962, maka terbentuklah “Resimen Mahasiswa Serba Guna”.
Tanggal 24 Januari 1963 terbentuk Batalyon Inti yang memiliki kualifikasi “Perlawanan Rakyat” sesuai dengan keputusan bersama Menko Hankam, Kasab & Menteri PTIP No.M/A/20/63.
Tanggal 21 April 1964 untuk mewujudkan Pembentukan Resimen Mahasiswa di tiap Kodam, maka Batalyon Inti digabung dalam satu wadah Resimen Mahasiswa yang disebut Resimen Mahawarman.
Tanggal 12 Juni 1964 Jendral A.H Nasution selaku Menko Hankam/Kasab mengesahkan Dhuaja Resimen Mahasiswa Jawa Barat. Tanggal 13 Juni 1964 pada upacara parade/defile di Lapangan Diponegoro, Dhuaja ini diserahkan kepada Komandan Resimen Mahawarman Kapten Ojik Soeroto oleh Jenderal A.H Nasution yang didampingi Menteri PTIP Prof.Ir. Tojib Hadiwidjaja dan Pangdam VI/Siliwangi Kolonel Ibrahim Adjie.
Pada kesempatan ini Menteri PTIP menganugerahkan nama Resimen Mahawarman bagi Resimen Mahasiswa di Jawa Barat yang berarti “Perisai yang Agung”. Dengan Motto “Widya Castrena Dharma Siddha” yang berarti “Penyempurnaan Pengabdian dengan Ilmu Pengetahuan dan Ilmu Keprajuritan

Antara Bihbul dan Salabintana

Udara dingin meresap keseluruh relung tubuh, bunyi gemeletuk gigi menahan getaran tubuh karena menggigil, meskipun telah dibalut dengan pakaian lapangan berlapis namun tidak mengurangi rasa dingin. Ku coba menggerakan kedua telapak kaki didalam sepatu boots yang setiap hari mengkungkung bagian bawah kaki, kuremas-remas kedua telapak tangan berusaha mengurangi rasa kaku. Dua kegiatan itu merupakan bagian dari “ilmu” yang kuperoleh selama Latihan Dasar Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon VI Jawa Barat.
Kelelahan menyergap seluruh peserta pelatihan, terlihat dari raut muka yang kuyu dan gerak tubuh yang mulai melemah padahal perjalanan masih panjang karena dari empat minggu jadwal latihan baru tiga minggu dilalui. Selama tiga minggu latihan telah menguras seluruh tenaga dan pikiran. Latihan baris berbaris, membentuk formasi dalam regu maupun peleton sampai senam senjata telah kami lakukan. Hukuman karena kesalahan atau tidak disiplin dalam setiap kegiatan telah kami jalani, hukuman berupa push-up, kop-roll, back-roll, scot-jump, “jalan bebek”, menghormat pada bendera yang berkibar diujung tiang bendera.
Menggerutu dan mengumpat dalam hati ketika menjalani hukuman-hukuman itu, namun sekarang baru terasa bahwa ada manfaat positf kuperoleh karena kita tidak lagi “cengeng” menghadapi segala kesulitan dalam hidup.
Suara tembakan yang keluar dari senapan M16 dan Garrant serta dentuman granat membaur dengan bunyi sirine dan peluit, saling sahut. Sesaat kemudian terdengar bentakan dan teriakan dari beberapa instruktur yang memberitahu seluruh peserta untuk segera bersiap-siap menuju lapangan utama. Kami berlarian dari barak menuju formasi Kompi masing-masing, menyandang senjata Garrant (dalam istilah kami senjata Garrant ini adalah istri/suami seluruh peserta pelatihan karena kalau senjata hilang maka akibatnya sangat fatal, hukuman yang akan diperoleh tidak sekedar push-up atau jalan bebek tapi bisa-bisa setengah hari menghormat bendera yang berkibar diujung tiang. Tidak lupa perlengkapan lain berupa botol air (peples), topi kain dan helm baja serta ransel yang berisi 6 (enam) buah bata merah selalu setia menempel pada bagian punggung seluruh peserta.
Formasi barisan dilapangan telah tersusun rapi dalam sikap sempurna menurut Kompi, selanjutnya masing-masing Komandan Kompi melapor kepada Komandan Upacara. Setelah memberikan instruksi harian, Komandan Upacara meninggalkan lapangan upacara, maka seluruh peserta pelatihan dibubarkan untuk membentuk formasi Regu yang terdiri dari 10 (sepuluh) peserta. Setelah di “briefing” oleh masing-masing Komandan Peleton, seluruh peserta bersiap melakukan perjalanan long march dari Bihbul ke Salabintana.
Bihbul adalah Camp Militer tempat pelatihan bagi Angkatan Darat (Raiders) terletak di Ujungberung sebelah timur kota Bandung, selama 10 (sepuluh) hari seluruh peserta LatSar Menwa di”gojlog” oleh Instruktur dari Angkatan Darat (Gumil/Guru Militer) tentang teknik dasar kemiliteran. Selesai latihan dasar militer dilanjutkan dengan latihan pengenalan medan dan latihan tempur berupa strategi perang kota, perang hutan serta teknik hidup di hutan (survival), tentu pelatihan tentang pengenalan, bongkar pasang dan penggunaan senjata organik militer berupa senjata laras panjang Garrant, senjata serbu M16, Senjata Mesin Ringan (SMR), dan berbagai senjata genggam berupa pistol jenis FN. Sedangkan Salabintana adalah salah satu kota Kecamatan di Sukabumi, daerahnya sejuk dan asri. lokasi daerahnya banyak digunakan sebagai lahan pertanian dan perkebunan rakyat.
Semua peserta latihan bersiap-siap untuk melakukan long march, dengan menyandang senjata, menggendong ransel dan beriringan menurut regu meninggalkan basecamp Bihbul. Bukit menurun dilalui, tanjakan terjal didaki, tebing dituruni, sungai disebrangi. Jalur perjalanan yang paling berat, melelahkan dan sepertinya tiada ujung adalah “rel kereta api”. Dua baris besi hitam merentang sampai pada suatu titik mempertemukan dua baris besi itu, namun setelah didekati nyatanya besi itu terpisah dan tidak akan pernah bersatu sampai ujung manapun, akankah perjalanan ini juga tiada berujung…??
Siang berganti malam, malam berganti siang, hujan dan panas silih berganti menemani kami. Hutan rimba telah kami lalui, jalanan beraspal kami tapaki, rel kereta api telah kami susuri, peluh bercucuran, telapak kaki melepuh, terasa pegal dibagian punggung dan dada karena tertarik oleh beban dalam ransel. Setiap singgah di pedesaan atau kecamatan kami lakukan pembinaan wilayah (binwil) kepada masyarakat setempat berupa bakti sosial sekalian menjalankan salah satu kegiatan dari tri dharma perguruan tinggi.
Empat hari tiga malam telah kami lalui, berbagai kejadian memberi warna dan nuansa tersendiri sehingga memberi pengalaman dan pemahaman kami atas pentingnya ”kehadiran” orang lain dalam menjalani hidup ini. Terpulang kepada bagaimana kita menyikapi interaksi antar sesama namun nilai-nilai kebersamaan itu akan terbentuk ketika interaksi dilakukan secara berkesinambungan dan saling menghormati serta menjunjung tinggi tenggang rasa.
Pada pukul 05.15 WIB sampailah kami kepada shelter akhir perjalanan, yaitu suatu lapangan rumput terbuka di Salabintana Sukabumi. Dengan disambut dentuman granat, rentetetan bunyi senapan dan desingan peluru di atas kepala peserta yang ditembakan dari senjata genggam para instruktur. Rasa bangga dan gembira bercampur haru membuncah dalam relung dada masing-masing peserta pelatihan Pendidikan Dasar Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon VI Jawa Barat.