Mengenai Saya

Foto saya
Surfing on the cloud...

Nyengir Kuda...

Nyengir Kuda...

Kamis, Agustus 20, 2009

Antara Pesawat Udara, Taksi, Bus dan Becak...

Keinginanku untuk menemui seorang sahabat di suatu kota sudah lama direncanakan, hanya baru sekarang keinginan itu baru akan diwujudkan. Rasa penasaan, kangen dan hasrat untuk segera menemui seorang sahabat sudah tak tertahankan karena selama ini kami “bertemu” hanya melalui alat komunikasi telepon…

Tiba juga hari “H” yang saya tunggu, jam 13.20 WITA adalah jadwal flight (penerbangan domestik) dari Kp ke Dp, sampai di Bandara NR jam 14.15 WITA. Sambil menunggu PESAWAT dari Dp ke Yk dijadwalkan jam 15.10 WITA serta untuk “membunuh” rasa sepi dan jenuh karena menunggu waktu, saya mencoba berkomunikasi dengan sahabat melalui telepon. Perjalanan Dp – Yk ditempuh selama 40 menit dan jam 15.00 WIB (perbedaan waktu 1 jam antara WITA dan WIB) aku tiba di Bandara AS Yk. Perjalanan saya teruskan dari Bandara dengan menggunakan TAKSI ke terminal BUS untuk menuju kota tujuan. Selama perjalanan suasananya berbeda dengan ketika saya “duduk” di pesawat. Ketika memakai bus saya tidak dapat memandang keluar jendela karena posisi duduk saya berada di “samping gang” selain itu juga kondisi diluar hanya kegelapan yang terlihat. Saya berusaha menahan kantuk dan rasa lelah karena perjalanan dari ujung timur Indonesia ke bagian tengah Indonesia cukup lama, namun keinginan kuat membunuh rasa itu... Pukul 20.15 WIB sampailah saya di terminal bus kota tujuan, perjalanan saya teruskan dengan menggunakan BECAK menuju hotel D (saya lupa nama jalannya). Sesampainya di lobby hotel, saya check in dan ternyata kamar sudah dipesankan oleh dia… sahabatku…. Hmm… surprise…, ketika saya memasuki kamar, didalamnya selain tersedia compliment dari hotel juga ada cake, buah-buahan dan secarik kertas yang isinya sangat menyentuh nurani dan kalbu saya. Hilang rasa lelah dan kantuk saya ketika membaca tulisan itu, yang ada dalam pikiran saya hanya keinginan untuk segera bertemu dan mendengar suara seorang sahabat secara langsung… Untuk segera mewujudkan pertemuan, saya segera rebahkan badan dan tertidur agar esok hari badan lebih fresh dan berharap malam cepat berganti dengan siang hari…

Pagi yang cerah secerah suasana hati saya karena sebentar lagi akan menyongsong pertemuan dengan seorang sahabat… Bunyi telepon berdering, kami berjanji untuk bertemu disatu tempat… tak sabar ingin kulihat seraut wajah secara langsung, wajah yang selama ini saya lihat hanya melalui foto….
Sekarang sosok itu ada dihadapan saya, kujabat tangannya, sepertinya saya tidak mau melepaskan jabatan itu… tidak ada sepatah katapun yang mampu terucap…, hanya kebahagiaan dan suka cita karena pertemuan yang ditunggu sekian lama kini dapat terwujud…
* .... sekarang dan tak terbatas waktu.... tetap menjadi sahabatku....

Rabu, Agustus 19, 2009

Sepenggal dialog menjadi awal kehidupan baru....

Pesawat telepon yang ada dimeja kerja saya berdering, setelah 2 kali “ring-tone”nya berbunyi lalu saya angkat, terdengar suara perempuan diseberang menyapa:

Perempuan: “hallo…”
Saya: “hallo, selamat siang…mau bicara dengan siapa…?”
(P):“oh ya, mohon maaf, saya mau bicara dengan Mas Pulung…”
(S):“kebetulan Mas Pulung nya sedang tidak ada ditempat Mba…, ada yang bisa saya bantu…? ini dari mana dan saya bicara dengan siapa…?”
(P):“saya Rita, teman nya Mas Pulung…, kalau begitu nanti aja saya telepon kembali, mohon maaf, saya juga bicara dengan siapa…?”
(S):“saya Tia, Tia SP…”
(dalam hati saya bergumam bahwa saya telah memberikan informasi nama yang keliru kepada penelepon)
(P):“kalau namanya Tia SP pasti orang sunda ya…? kenapa orang sunda ada di Kupang…?”
(S):iya, saya dari Bandung, kebetulan sedang ditugaskan di Kupang, memang kalau orang sunda ngga boleh di Kupang Mba…? kalau Mba Rita sendiri dimana…?”
(P):“boleh aja sih, ngga ada yang larang juga… saya di Jakarta, kebetulan sedang buka usaha… kalau begitu, saya panggil Kang Tia aja ya…? udah lama tugas di Kupang…?”
(S):“udah tiga tahun malah mau masuk tahun keempat di Kupang, kesel juga sih karena beberapa temen udah pada dipindah lagi ke kota lain…”
(P):“jadi Kang Tia kira-kira kapan dipindahnya…?”
(S):“ngga tau juga ya, mudah-mudahan ngga lama lagi… ngomong-ngomong, Mba Rita sama siapa di Jakarta…?”
(P):“saya di Jakarta sama orang tua, buka usaha studio foto, jadi kerjaan saya sekarang jagain studio foto itu. saya kenal Mas Pulung kebetulan yang bersangkutan satu kampus dengan saya…”
(terbayang dalam benak saya, Mba Rita ini waktu telepon saya sedang duduk dikursi dibelakang meja counter desk studio foto…)
(S):“Mba Rita gimana atuh Mas Pulung nya belum kembali ditempat…?”
(P):“oh gitu, ya udah… nanti saya telepon lagi kalau yang bersangkutan sudah kembali ke tempat… Kang Tia kalau nanti saya telepon Kang Tia ngga keberatan…?”
(S):“dengan senang hati, saya akan terima telepon Mba Rita, atau malah nanti saya yang akan telepon Mba Rita… kalau nomor telepon Mba Rita yang dapat saya hubungi nomor berapa…?”
(P):“Kang Tia, kalau gitu saya pamit dulu karena ada kerjaan yang harus diselesaikan hari ini,…nomor teleponnya nanti saya kasih kabar lagi…”
(S):“silakan Mba Rita, saya tunggu kabar selanjutnya dari Mba Rita…”
(P):“Terima kasih ya”
(S):“sama-sama Mba Rita, terima kasih juga udah berkenan kenalan dengan saya…”
(saya sangat berharap suatu saat Mba Rita menelepon saya lagi sekalian memberikan nomor telepon pribadinya…)

Gagang pesawat telepon tidak segera saya simpan, karena masih berkecamuk dalam benak saya, siapa gerangan perempuan yang telepon tadi…? alunan suara dan aksentuasi kata telah menyihir saya untuk mengajukan pertanyaan lebih banyak supaya saya lebih lama berdialog dengan Mba Rita yang baru saya kenal melalui telepon lima menit yang lalu.
Hmmm, ternyata sepenggal dialog itu telah mewujudkan harapan baru dalam kehidupan saya... terima kasih ya Alloh ya robull allamin...

Selasa, Agustus 04, 2009

Salam Wanadri...

"Tak ada gunung yang tinggi, rimba belantara, jurang curam dan lautan serta angkasa yang tak dapat dijelajahi oleh Wanadri" (Sarwo Edhi Wibowo)

Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti Pendidikan Dasar Wanadri (PDW)…
Berbagai alasan dan pertimbangan sampai ke hal-hal yang paling pahit dan tidak nyaman telah diperhitungkan. Kenapa hal ini dilakukan, mengingat satu tahun sebelumnya saya telah mengikuti Pendidikan Dasar Resimen Mahasiswa yang telah menempa dan membentuk pribadi saya baik secara fisik maupun mental, kondisi itu sangat bermanfaat minimal bagi diri sendiri. Selama mengikuti PDW saya memperoleh pembelajaran dan makna hidup yang sangat berarti dalam pembentukan pribadi saya. Niat awal saya mengikuti PDW lebih kepada keinginan untuk memanfaatkan momentum dan penyegaran dalam hidup saya,

Beberapa teman saya heran dan bertanya-tanya, mengapa saya mengikuti PDW padahal belum lama baru selesai Diklatsar Menwa. Saya coba jelaskan kepada mereka bahwa setahu saya pembelajaran di PDW ialah menyatukan manusia dengan alam dan mengkondisikan kita (peserta) dalam kondisi yang ekstrem secara fisik dan mental. Sehingga dengan pengalaman tersebut diharapkan peserta dapat menjadi manusia yang tangguh dan andal. Alasan berikutnya yang mendorong saya mengikuti PDW ini lebih kepada kecintaan dan obsesi saya untuk bertualang.

Dinginnya udara pagi Kota Bandung serasa menusuk ke seluruh relung tulang namun hal itu tidak menyurutkan niat saya untuk segera berangkat menuju ke sekretariat Wanadri di Gedung Pancasila Jl. Aceh Bandung. Setibanya di sekretariat semua peserta dikumpulkan di halaman selanjutnya semua melakukan push up untuk pemanasan, cek kelengkapan peralatan dan perbekalan, pukul 5.30 kami diberangkatkan per regu untuk long march dari Jl. Aceh ke Situ Lembang.

Perjalanan long march dari Jl. Aceh Bandung melewati Jl. Ciumbuleuit-Punclut-Lembang-Jayagiri-Tangkuban Parahu. Seluruh peserta PDW baru sampai di Kawah Upas Tangkuban Parahu kurang lebih jam lima sore. Setelah istirahat setengah jam kami dikumpulkan di tebing kawah upas puncak Tangkuban Parahu yang menjulang tinggi. Di depan kami adalah gerbang Pendidikan Dasar Wanadri, kami akan membukanya sekarang dan memasukinya.

Hari-hari selama kegiatan PDW banyak kejadian yang saya dan peserta lainnya alami. Perjalanan panjang yang melelahkan dan pada saat tertentu menimbulkan keputusasaan sebagian peserta.
§ Kegiatan longmarch dari Jln. Aceh sampai Situ Lembang menghabiskan waktu siang dan malam, namun kami jalani dengan penuh kesabaran karena niatan awal ingin mendapatkan ”sesuatu” yang belum pernah kami dapatkan.
§ Selama 1 (satu) minggu tahapan pelatihan dasar di Situ Lembang mengajarkan kedisiplinan, membiasakan mengkonsumsi makanan berupa nasi dari beras merah, ikan asin waja, tahu dan tempe, serta minum air sungai dan situ lembang.
§ Penelusuran sungai Citarum dan pendakian Tebing Citatah selama 4 hari yang memberikan pengalaman dan pengatahuan bagi peserta. Berapa banyak air sungai Citarum yang terhirup selama penelusuran, luka tergores dan memar di tubuh ketika menapaki dan memanjat Tebing Citatah, namun tidak menyurutkan semangat kami.
§ Selama dua hari dua malam di Rawa-Pantai Blanakan-Pamanukan, Subang sangat berkesan karena keindahan rawa dan pantai yang permukaan airnya disaput sinar matahari senja.
§ Sejauh 30 km ditempuh dengan berjalan kaki (longmarch) menyusuri rel kereta api sejak dari Indramayu-Pagaden Baru, Subang. Diteruskan dengan perjalanan di jalan raya dan bukit (longmarch) sejauh 50 km Taman Ranggawulung Subang-Desa Cihanjawar Purwakarta.
§ Kegiatan bakti sosial kepada masyarakat merupakan salah satu bagian dari PDW. Semua peserta diinapkan di Balai Desa selama satu malam dan malam berikutnya disebar untuk berinteraksi serta menginap di rumah warga.
§ Sesi latihan Survival dilanjutkan dengan Search and Rescue (SAR) selama enam hari lima malam, sungguh memberikan pengalaman dan pelajaran yang tidak akan pernah terlupakan. Selama latihan Survival dan SAR, kami menyatu dengan alam, pemahaman dan penyesuaian dengan kondisi alam sangat diperlukan karena setiap saat kondisi alam berubah tanpa kita dapat duga sebelumnya.
§ Satu hari menjelang penutupan, semua peserta ”diinapkan” di alam terbuka puncak Gunung Tangkuban Parahu, menjelang subuh semua peserta bersiap-siap menuju lapangan upacara.

Tiga puluh hari telah kami lewati, suka dan duka kami jalani, luka di badan karena tergores ranting dan dahan, terbentur batu dan kayu melepuh karena panas, digigit serangga atau lintah menjadi hal yang biasa kami alami. Namun kondisi-kondisi itu tidak menyurutkan semangat kami, ikatan kekeluargaan, kerjasama dan kekompakan peserta menjadi pengikat semua peserta PDW yang mempunyai tujuan sama mengakhiri PDW dengan selamat.

Pagi itu, kurang lebih jam delapan, di Puncak Tangkuban Parahu, dari atas tebing turun ke Kawah Upas, saatnya kami keluar dari gerbang ini dengan selamat. Hikmah yang akan kami bawa pulang setelah proses yang panjang dan berat ini yaitu mengingatkan kami tentang nilai-nilai Wanadri yang salah satunya adalah tidak berhenti belajar dan berlatih sampai kita mati. Saat itu saya tertunduk berdo’a dan menangis, memohon ampun kepada Allah swt atas semua dosa, kesia-siaan, dan kelalaian khususnya selama 30 hari ini. Serta memohon kepada-Nya agar semua niatan saya dikabulkan.

Semua peserta menuruni tebing menuju Kawah Upas, dengan sambutan ledakan TNT, rentetan tembakan, serta granat asap kami tiba di tempat upacara pelantikan. Hampir seluruh anggota Wanadri hadir, dan tentu saja yang akan melantik kami yaitu Panglima TNI beserta anak buahnya dari baret merah (KOPASANDHA), oranye (PASKHAS), ungu (MARINIR), biru (PM), ada juga pejabat dari pemerintah daerah Prov. Jawa Barat dan yang lainnya.

Yang paling istimewa tentu saja para undangan yang merupakan orang tua dan keluarga para siswa. Namun secara pribadi, saya sedih karena yang lain hampir semuanya dihadiri oleh orang tua atau keluarga masing-masing sementara saya tidak ada satupun orang tua dan keluarga yang hadir karena saat itu memang saya sendirian di kota Bandung ini. Namun demikian ada sedikit yang mengurangi kesedihan dan menghibur saya adalah temen-temen senior di Wanadri yang kebetulan juga temen-temen saya di Resimen Mahasiswa Mahawarman tak henti-hentinya memberikan support dan semangat bahwa tidak hari ini saja pengabdian akan berakhir tapi perjalanan masih panjang dan kedepan akan lebih berat lagi harus dihadapi oleh saya. Selanjutnya secara simbolik Panglima TNI melantik perwakilan peserta dengan menyematkan badge orange Wanadri di lengan kiri kemeja dan peserta lainnya penyematan dilakukan oleh orang tua atau keluarga masing-masing.

Sampai dengan hari ini saya masih diberi umur panjang dan kesehatan serta insya alloh kedepan akan lebih baik lagi sehingga saya dapat menuliskan catatan-catatan kecil mengenai pengalaman perjalanan hidup saya.

Kabut Rimba - Kaliandra 1981

Kamis, Mei 28, 2009

Sejarah Resimen Mahasiswa Mahawarman




Tanggal 13 Juni 1959 sesuai dengan keputusan Pangdam VI/SLW No. 40/2/5/1959 Kolonel Kosasih, dibentuklah Wajib Latih (WALA) Mahasiswa dalam rangka menghadapi kericuhan di Jawa Barat, terutama yang ditimbulkan oleh DI/TII Kartosuwiryo. WALA Mahasiswa angkatan 1959 ini adalah Resimen Mahasiswa pertama di Indonesia, sebagai Komandan pertama adalah Kapten Ojik Soeroto.
Sebagai kelanjutannya, dari tanggal 13 Juni sampai 14 September 1959 diadakan latihan yang pertama di Kota Bandung yang menghasilkan satu Batalyon Mahasiswa dengan kekuatan 6 kompi terdiri atas 4 kompi mahasiswa ITB, 2 kompi gabungan Universitas & Akademi swasta.
Tanggal 19 Desember 1961, sejalan dengan Perjuangan Pembebasan Irian Barat, TRIKORA, keluarlah Instruksi Menteri PTIP No. 1 tahun 1962 tanggal 15 Januari 1962 untuk membentuk Corps sukarelawan di lingkungan Perguruan Tinggi dan Penguasa, Perang Daerah No. KPTS 04/7/1/PPD/62 tanggal 10 Juni 1962, maka terbentuklah “Resimen Mahasiswa Serba Guna”.
Tanggal 24 Januari 1963 terbentuk Batalyon Inti yang memiliki kualifikasi “Perlawanan Rakyat” sesuai dengan keputusan bersama Menko Hankam, Kasab & Menteri PTIP No.M/A/20/63.
Tanggal 21 April 1964 untuk mewujudkan Pembentukan Resimen Mahasiswa di tiap Kodam, maka Batalyon Inti digabung dalam satu wadah Resimen Mahasiswa yang disebut Resimen Mahawarman.
Tanggal 12 Juni 1964 Jendral A.H Nasution selaku Menko Hankam/Kasab mengesahkan Dhuaja Resimen Mahasiswa Jawa Barat. Tanggal 13 Juni 1964 pada upacara parade/defile di Lapangan Diponegoro, Dhuaja ini diserahkan kepada Komandan Resimen Mahawarman Kapten Ojik Soeroto oleh Jenderal A.H Nasution yang didampingi Menteri PTIP Prof.Ir. Tojib Hadiwidjaja dan Pangdam VI/Siliwangi Kolonel Ibrahim Adjie.
Pada kesempatan ini Menteri PTIP menganugerahkan nama Resimen Mahawarman bagi Resimen Mahasiswa di Jawa Barat yang berarti “Perisai yang Agung”. Dengan Motto “Widya Castrena Dharma Siddha” yang berarti “Penyempurnaan Pengabdian dengan Ilmu Pengetahuan dan Ilmu Keprajuritan

Antara Bihbul dan Salabintana

Udara dingin meresap keseluruh relung tubuh, bunyi gemeletuk gigi menahan getaran tubuh karena menggigil, meskipun telah dibalut dengan pakaian lapangan berlapis namun tidak mengurangi rasa dingin. Ku coba menggerakan kedua telapak kaki didalam sepatu boots yang setiap hari mengkungkung bagian bawah kaki, kuremas-remas kedua telapak tangan berusaha mengurangi rasa kaku. Dua kegiatan itu merupakan bagian dari “ilmu” yang kuperoleh selama Latihan Dasar Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon VI Jawa Barat.
Kelelahan menyergap seluruh peserta pelatihan, terlihat dari raut muka yang kuyu dan gerak tubuh yang mulai melemah padahal perjalanan masih panjang karena dari empat minggu jadwal latihan baru tiga minggu dilalui. Selama tiga minggu latihan telah menguras seluruh tenaga dan pikiran. Latihan baris berbaris, membentuk formasi dalam regu maupun peleton sampai senam senjata telah kami lakukan. Hukuman karena kesalahan atau tidak disiplin dalam setiap kegiatan telah kami jalani, hukuman berupa push-up, kop-roll, back-roll, scot-jump, “jalan bebek”, menghormat pada bendera yang berkibar diujung tiang bendera.
Menggerutu dan mengumpat dalam hati ketika menjalani hukuman-hukuman itu, namun sekarang baru terasa bahwa ada manfaat positf kuperoleh karena kita tidak lagi “cengeng” menghadapi segala kesulitan dalam hidup.
Suara tembakan yang keluar dari senapan M16 dan Garrant serta dentuman granat membaur dengan bunyi sirine dan peluit, saling sahut. Sesaat kemudian terdengar bentakan dan teriakan dari beberapa instruktur yang memberitahu seluruh peserta untuk segera bersiap-siap menuju lapangan utama. Kami berlarian dari barak menuju formasi Kompi masing-masing, menyandang senjata Garrant (dalam istilah kami senjata Garrant ini adalah istri/suami seluruh peserta pelatihan karena kalau senjata hilang maka akibatnya sangat fatal, hukuman yang akan diperoleh tidak sekedar push-up atau jalan bebek tapi bisa-bisa setengah hari menghormat bendera yang berkibar diujung tiang. Tidak lupa perlengkapan lain berupa botol air (peples), topi kain dan helm baja serta ransel yang berisi 6 (enam) buah bata merah selalu setia menempel pada bagian punggung seluruh peserta.
Formasi barisan dilapangan telah tersusun rapi dalam sikap sempurna menurut Kompi, selanjutnya masing-masing Komandan Kompi melapor kepada Komandan Upacara. Setelah memberikan instruksi harian, Komandan Upacara meninggalkan lapangan upacara, maka seluruh peserta pelatihan dibubarkan untuk membentuk formasi Regu yang terdiri dari 10 (sepuluh) peserta. Setelah di “briefing” oleh masing-masing Komandan Peleton, seluruh peserta bersiap melakukan perjalanan long march dari Bihbul ke Salabintana.
Bihbul adalah Camp Militer tempat pelatihan bagi Angkatan Darat (Raiders) terletak di Ujungberung sebelah timur kota Bandung, selama 10 (sepuluh) hari seluruh peserta LatSar Menwa di”gojlog” oleh Instruktur dari Angkatan Darat (Gumil/Guru Militer) tentang teknik dasar kemiliteran. Selesai latihan dasar militer dilanjutkan dengan latihan pengenalan medan dan latihan tempur berupa strategi perang kota, perang hutan serta teknik hidup di hutan (survival), tentu pelatihan tentang pengenalan, bongkar pasang dan penggunaan senjata organik militer berupa senjata laras panjang Garrant, senjata serbu M16, Senjata Mesin Ringan (SMR), dan berbagai senjata genggam berupa pistol jenis FN. Sedangkan Salabintana adalah salah satu kota Kecamatan di Sukabumi, daerahnya sejuk dan asri. lokasi daerahnya banyak digunakan sebagai lahan pertanian dan perkebunan rakyat.
Semua peserta latihan bersiap-siap untuk melakukan long march, dengan menyandang senjata, menggendong ransel dan beriringan menurut regu meninggalkan basecamp Bihbul. Bukit menurun dilalui, tanjakan terjal didaki, tebing dituruni, sungai disebrangi. Jalur perjalanan yang paling berat, melelahkan dan sepertinya tiada ujung adalah “rel kereta api”. Dua baris besi hitam merentang sampai pada suatu titik mempertemukan dua baris besi itu, namun setelah didekati nyatanya besi itu terpisah dan tidak akan pernah bersatu sampai ujung manapun, akankah perjalanan ini juga tiada berujung…??
Siang berganti malam, malam berganti siang, hujan dan panas silih berganti menemani kami. Hutan rimba telah kami lalui, jalanan beraspal kami tapaki, rel kereta api telah kami susuri, peluh bercucuran, telapak kaki melepuh, terasa pegal dibagian punggung dan dada karena tertarik oleh beban dalam ransel. Setiap singgah di pedesaan atau kecamatan kami lakukan pembinaan wilayah (binwil) kepada masyarakat setempat berupa bakti sosial sekalian menjalankan salah satu kegiatan dari tri dharma perguruan tinggi.
Empat hari tiga malam telah kami lalui, berbagai kejadian memberi warna dan nuansa tersendiri sehingga memberi pengalaman dan pemahaman kami atas pentingnya ”kehadiran” orang lain dalam menjalani hidup ini. Terpulang kepada bagaimana kita menyikapi interaksi antar sesama namun nilai-nilai kebersamaan itu akan terbentuk ketika interaksi dilakukan secara berkesinambungan dan saling menghormati serta menjunjung tinggi tenggang rasa.
Pada pukul 05.15 WIB sampailah kami kepada shelter akhir perjalanan, yaitu suatu lapangan rumput terbuka di Salabintana Sukabumi. Dengan disambut dentuman granat, rentetetan bunyi senapan dan desingan peluru di atas kepala peserta yang ditembakan dari senjata genggam para instruktur. Rasa bangga dan gembira bercampur haru membuncah dalam relung dada masing-masing peserta pelatihan Pendidikan Dasar Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon VI Jawa Barat.

Kamis, Maret 19, 2009

Jump... Jump... Jump...

Suatu hari di bulan Desember tahun 1980, cuaca sangat cerah malah lebih dekat ke sedikit panas, angin bertiup juga tidak terlalu kencang, rasa-rasanya cuaca seperti ini cocok untuk melakukan penerjunan. Hanya keinginan itu tidak serta merta dapat diwujudkan seketika karena menyangkut biaya dan izin dari pejabat yang mengelola Bandar Udara (Bandara).
Setelah melalui perundingan yang agak alot akhirnya disepakati hari H jam D untuk melakukan penerjunan. Pukul 06.00 wib kami berenam dengan mengendarai jeep toyota hardtop dari basecamp di Jl. Tongkeng menuju Bandung Selatan, laju mobil tidak terlalu kencang karena jalanan masih lengang, angin semilir dari celah kaca jendela mobil menerpa wajah.
Hening, sunyi, hanya terdengar deru mesin dan gemuruh roda mobil menggilas jalanan aspal, tiba2 kami yang duduk dibagian kursi belakang dikejutkan karena laju mobil berhenti di rem mendadak… “ah sialan” gerutu teman saya, “lu kalau mau brenti jangan direm mendadak kaya gitu… jidat penumpang yang duduk dibelakang bisa-bisa kebentur sandaran kursi depan….” tapi teman yang duduk dikursi depan malah tertawa tergelak karena dia tau lebih dulu dan minta mobil brenti, ternyata teman itu ketinggalan harnet di rumah, jadi kita harus balik lagi mengambil harnet…
Singkat cerita, sampailah kami di Bandara, lapor ke petugas piket dan minta diantar ke tempat/bagian yang memberi izin untuk melakukan kegiatan penerjunan. Setelah mengurus izin kepada pihak Bandara dan tidak terlalu sulit karena kegiatan ini rutin dilakukan oleh kami secara berkala setiap 3 (tiga) bulan.
Selanjutnya kami berenam menuju avron Bandara diangkut menggunakan mini truk AURI ke ruang briefing untuk mendapat pengarahan dari instruktur dan membahas serta menentukan formasi penerjunan yang akan kami lakukan.
Setelah semuanya clear, disepakati dan dipahami, kami berenam diarahkan menuju landasan, disana sudah menunggu pilot senior yang dengan setia membawa kami keangkasa dan selanjutnya “melepaskan” kami dari “lubang pintu ” pesawat untuk direngkuh oleh senyapnya ruang angkasa.
Tibalah kami untuk “mengudara”, ketika take off lancar-lancar saja hanya terdengar sedikit gemuruh dari mesin pesawat yang memekakan gendang telinga, ketika badan pesawat sudah stabil, kami berenam siap-siap untuk melompat dari lubang pintu bagian ekor pesawat….
Jump… jump… jump… seketika dalam hitungan detik kesadaran saya hilang sejenak namun seterusnya saya dapat menguasai diri barulah... surfing on the sky….
Subhanallah…. betapa indah dan menakjubkan ciptaan Allah SWT… hanya keheningan dan sunyi senyap suasananya serta hembusan angin menerpa seluruh badan saya… selama dua belas menit badan terombang ambing payung parasut, mencari keseimbangan, mencari posisi untuk pendaratan. Titik putih pada hamparan kain terpal (drop zone) dilandasan samar-samar kelihatan, itulah tujuan yang harus saya capai dan menjejakan kaki…

Rabu, Maret 18, 2009

Berbagi...

Mencoba untuk bersikap terbuka memang sulit kulakukan, karena kebiasaanku tertutup sudah berakar, namun kini..., harapanku dengan sedikit untaian kata-kata, kiranya aku dapat mengungkapkan apa yang sebenarnya menjadi inspirasiku, kesedihanku, bahkan mungkin bakat terpendamku... melalui tulisanku, jadi jangan kemana-mana, always stay tune in my exclusive blog...